Gambaran Umum
KAMPUNG KB DESA ULAKAN, KECAMATAN ULAKAN, KARANGASEM.
Pada waktu
itu pembangunan diprakarsai oleh penduduk yang ada disebelah
Timur
Blubuh yaitu keluarga I MANGKU MINYENG yang dimulai dengan
pembangunan
Pura Dalem mulai dari pembuatan Sanggah Cucukan sampai menjadi
Bebaturan
di bantu oleh I TEMAJA. Kemudian diangkatlah keluarga I MANGKU
MINYENG
menjadi pemuka Agama dan pemuka Masyarakat saat itu. Karena I
MANGKU
merasa kesulitan dalam mengatur kegiatan penduduk, maka
didatangkanlah
I GEDE MERTA SARI dan I GEDE GANDA SARI dari Sidemen.
Pada waktu
itu kuburan ada disebelah utara Tukad Alas dan kuburan Bayi terletak di
Sebelah
Selatan Tukad Alas. Pura Puseh direncanakan di Sebelah Timur Pemajangan.
Karena
saat itu I MANGKU sebagai Pimpinan Masyarakat dan Pimpinan Agama
Terbentuknya
Desa Ulakan, (yang mewilayahi 3 Desa
adat yaitu : Desa Ulakan, Tanah Ampo, Selat Duda Abiancanang) menjadi satu
Perbekelan yaitu terdiri dari 6 (enam) Banjar Dinas yaitu : Abian Canang,
Mangku, Tengah, Belong, Kodok, Tanahampo Nama Ulakan sampai sekarang tetap
menjadi nama Desa dimana Desa yang mewilayahi 6 (enam) Dusun sampai kini
bernama Desa Ulakan.
merasa
kewalahan untuk memimpin Warga Masyarakatnya karena belum dilengkapi
oleh Warga
Bendesa dan dan Warga Pasek sesuai dengan petunjuk dari Raja di Puri
Gelgel,
dan pada Tahun 1550 menghadaplah I MANGKU DALEM kepada I GUSTI
NGURAH
SIDEMEN untuk memohon agar dapat diberikan Warga Pasek dan Bendesa
untuk
dijadikan Pucuk Pimpinan Pemerintahan di Desa INDRAWATI. Akhirnya
diutuslah
oleh I GUSTI NGURAH SIDEMEN, JRO GEDE RANGGU yang tinggal di
Sibetan
untuk datang di INDRAWATI. Setelah tiba di INDRAWATI JRO GEDE
RANGGU
menanyakan kepada I MANGKU DALEM kesulitan apa yang dihadapi di
INDRAWATI.
Kemudian diceritrakanlah oleh I MANGKU bahwa dalam
melaksanakan
kegiatan apapun sangat sulit untuk mengerahkan Warganya, karena
semua
Warga yang ada saat itu mengaku dirinya keturunan Para Arya, sehingga sangat
sulit
untuk diajak bergotong royong. Setelah mengetahui keadaan Desa yang
sedemikian
rupa, maka kembalilah JRO GEDE RANGGU menghadap I GUSTI
NGURAH di
Sidemen untuk memohon petunjuk. Sekembalinya
dari Sibetan ke
INDRAWATI
beliau mengajak pula Putra – Putranya yaitu : I GEPENG CENIK, I
GEDE UKIR,
dan I GEDE NURANI. Setelah tiba di INDRAWATI dimulailah dengan
kegiatan
membagi tanah pekarangan dan jalan di INDRAWATI. Karena merasa masih
kekurangan
tenaga untuk melaksanakan tugas tersebut maka didatangkanlah I JERO
GEDE
LAMLAM dan I GEDE TUBUH SURAT serta Putranya yaitu: I GEDE
KEKERAN
dan JERO GEDE BUNGAYA dari Selumbung sekitar tahun 1595.
Kedatangan
mereka ini membawa catatan mengenai sarat – sarat serta tata cara
pelaksanaan
untuk kegiatan lainnya, sebagai sebuah Desa Adat dalam sebuah Kampek
( Tas )
berwarna hitam yang sampai saat ini catatan tersebut masih disucikan dan
disimpan
di Dadya Gede (Dadya Bendesa). Sekitar tahun 1600 datanglah I MADE
PASEK yang
diutus oleh Raja Klungkung dengan diiringi oleh I MERGAN ke
INDRAWATI
untuk melengkapi terciptanya sebuah Desa sebagai Pemacek. Setelah
tiba di
INDRAWATI, tugas pertama yang dikerjakan adalah memberikan pembagian
tugas
kepada masing – masing kelompok Masyarakat yang ada di INDRAWATI. Kemudian
berturut – turut datang pula ke INDRAWATI I GEDE PARNI, WARGA
KEBAYAN
dari tangkas Klungkung, I GEDE RINGIN dan I WAYAN TUBUH dari
Dawan
Klungkung dan warga lainya. Pada waktu direncanakan untuk membangun
tempat
persembahyangan seperti Pura Puseh, Pura Dalem, dan Bale Agung di
INDRAWATI
saat itu untuk membangun sebelah selatan sungai Alas dekat dengan laut
dengan
pertimbangan bila masyarakat yang bekerja di sawah istirahat bisa
menggunakan
waktunya untuk mencari ikan di Laut. Namun pada saat pemindahan
Pura Dalem
kesebelah selatan Tukad Alas konon menurut ceritra BETARA DALEM
yang
Berstana di Dalem, tidak berkenan untuk di pindahkan ke Selatan, karena takut
dengan
Lintah. Yang sampai saat ini sangat sulit untuk didapati adanya lintah
tersebut.
INDRAWATI
dahulu yang sebenarnya “ U L A K A N “ ( Sumber Air ) pusat
Pemerintahan
dahulu dan setelah terbentuknya Desa Adat maka namanya berubah
menjadi
ULAKAN sesuai dengan tulisan – tulisan yang terdapat di Padil / Pipil. Pada
Jaman
penjajahan Belanda dahulu ULAKAN adalah merupakan satu Distrik yang
mewilayahi
Desa Adat Ulakan, Tanahampo, dan Desa Adat Padang. Sedangkan yang
menjadi
Punggawa pada saat itu adalah I GUSTI BAGUS OKA dari Puri Kelodan
Karangasem.
Kira – kira sekitar tahun 1912 Kedistrikan ULAKAN di ciutkan menjadi
I Distrik
yaitu: Distrik Manggis, sedangkan bekas Distrik Ulakan dijadikan Perbekelan
yang
mewilayahi Desa Adat Ulakan, Tanahampo, dan Padangbai sedangkan
Perbekelan
yang ditunjuk saat itu ialah I NYOMAN PASEK. Yang menjabat sebagai
Perbekel
dari Tahun 1908 sampai dengan Tahun 1915. Pada Tahun 1915 diangkatlah
Perbekel
yang baru menggantikan Perbekel yang lama yang sudah lanjut usia oleh I
NENGAH
NESA yang menjabat dari Tahun 1915 sampai Tahun 1964, dan
digantikan
oleh I WAYAN DARTIA sejak tahun 1964 sampai dengan 1984, karena
Perbekel
habis masa jabatannya sejak Tanggal 1 Februari 1984 dipilihlah Kepala
Desa yang
baru yaitu I WAYAN RAMIA sampai Tahun 2002. Dan sejak tanggal 28
Oktober
1991 Desa Adat Padang yang semula merupakan sebuah Dusun/Banjar Bagian
dari
Pemerintah Desa Ulakan ditingkatkan statusnya menjadi Desa Difinitip sebagai sebuah
Desa Padangbai sehingga terlepas dari Desa Ulakan. Dengan berakhirnya masa
Jabatan
Kepala Desa maka terpilihlah I NYOMAN RUDANA sejak tanggal 27
September
2002 sampai Tahun 2008. Mulai dari 09 Januari 2008 terpilihnya I
NENGAH
DIPTA sebagai Perbekel Ulakan. Dari 9 januari 2008 sampai 9 Januari
2014.
Kemudian dilanjutkan dari 9 Januari 2014 sampai 9 Januari 2020. Dengan
berakhirnya
masa jabatan Perbekel Ulakan selama 2 periode maka terpilihlah I
KETUT
SUMENDRA sebagai Perbekel Ulakan sampai sekarang.
Luas Desa Ulakan
adalah: 5,98 Ha dengan ketinggian 250 dpl. Dan memiliki batasan sebagai
berikut:
Sebelah
Utara : Desa Duda
Sebelah Selatan: Pantai Ulakan
Sebelah Timur : Desa Antiga
Sebelah Barat : Desa Manggis
Jumlah
Penduduk Desa Ulakan 1.140 KK dengan 6887 jiwa terdiri dari 3156 Laki-laki dan
3256 Perempuan.
Demikianlah
sejarah singkat terbentuknya Desa Ulakan yang dapat kami
sampaikan
dan kami tuturkan berdasarkan cerita-cerita dari tokoh-tokoh masyarakat
terdahulu.