Gambaran Umum


Berbicara tentang sejarah di Wilayah Tompotika Selatan sudah ada yang mendiami di daerah lereng bukit mulai dari sebelah Barat sampai wilayah Timur, dan penduduknya saat itu masih tinggal berkelompok-kelompok atau biasa disebut tumpukan.

Pada tahun 1580 saat kesultanan Ternate masuk di wilayah lereng/bukit di daerah Selatan Tompotika yang di dalamnya ada sekitar Delapan rumpun yaitu; Rumpun Buada, Rumpun Masama, Rumpun mian Mombosaano, Rumpun balangka-langkai, Rumpun Pingalauwian, Rumpun Lipu Sambira, Rumpun Bula dan Rumpun Lo'on. Sedangkan dalam Rumpun tersebut mempunyai beberapa bagian lagi yang terkecil dan disebut Bense (pecahan-pecahan dari 8 (delapan) Rumpun yang mempunyai Bense atau pecahan-pecahan) tersebut Yaitu :

A. Rumpun Masama = Bense Babo, Bense Rarong, Bense Batu Permata.

b. Rumpun Mimbosano = Palampang, Malantung, Tonuturan dan Mangkuu.

c. Rumpun Balangka-langkai = Tamparang, Pusung, dan Sioso.

d. Rumpun Buada = Layuon, dan Tubele. 

e. Rumpun Pingalauwian = Kampi, Bumbule, dan Minseele.

f. Rumpun Lipu'sambira = Molino dan Sukon.

g. Rumpun Bula = Mantoh dan Binotik.

H. Rumpun Loon. Soom, Kalibambang, Odong, Pangkang, Dolipo dan Boras

Sehingga pada Zaman Belanda ada seorang Guru namanya Guru Hukum yang mengajarkan tentang lagu dan syair sebagai berikut :

a. Adapun negara kita, Sualang, Molino, dan Eteng dan Batu Balu akan menjadi teman kita Mantoh, Binotik, Soom, Kalibambang, Boras, Odong, Dalipoa.

b. Anjingku kawanku ikut tapak kakiku.

Namun pada akhirnya di tahun 1960-an ada seorang murid bernama Ever Goas menterjemahkan lagu yang kedua merupakan lagu perumpamaan akan keadan masyarakat ini sebagai anjing yang hanya ikut pada telapak kaki dari penjajah Belanda. Pada masa kepemimpinan raja ke 30 Kerajaan Banggai (H. Abdul Rahman), di wilayah dataran Kerajaan Banggai terbagi atas beberapa bagian yang di tunjuk oleh Raja (Tumundo) H. Abdul Rahman untuk menjadi pemimpin yang disebut Tonggol, maka Rumpun Pingalauwian yang di dalamnya terdiri dari beberapa tumpukan yaitu; Tumpukan Kampi, Tumpukan Bumbule, Tumpukan Pusung Tumpukan Layuon dan Tumpukan Minseele, Tumpukan Tubuon, yang Pemerintahan saat itu di pimpin oleh Basalo, yaitu Basalo Tuke yang mempunyai 2 (dua) orang anak Kalawi dan Lele. Kemudian Pemerintahan diganti oleh Basalo Manangkal yang mempunyai 2 (dua) orang anak yakni Mandanga dan Pisa.

Pada saat Pemerintahan Ternate diambil alih oleh Belanda pada tahun 1905, maka yang menjadi Basalo saat itu adalah Basalo Tolinting yang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Tahun 2022 s/d 2029 mempunyai 2 (dua) orang anak yakni Sihuur dan Aeni. Basalo Tolinting membawa tumpukan Pingalauwian ini bertempat di Sualang, maka pada Tahun 1913 Agama Kristen masuk yang ditandai dengan baptisan yang dimulai dari Mantoh Tanggal 2 Januari 1913 dan di Sualang tanggal 22 Januari 1913.

Pada masa kepemimpinan Basalo Tolinting terjadilah perubahan nama pemerintahan dari Rumpun (tumpukan) menjadi Kampung dan Basalo menjadi Kepala Kampung atau Kepala Desa Sirom.

Pada tahun 2022 masyarakat desa diturunkan dari Sualang dengan berjalan kaki yang di Pimpin oleh Kepala Desa Albertus Goas saat itu menuju tempat yang baru yaitu Sirom.

Susunan Kepala Desa Sirom sebagai berikut :

1. Tolinting Tahun 1913 s/d 1917

2. Albert Goas Tahun 1918 s/d 1942

3. Jan Nuraga Tahun 1943 s/d 1943 (enam bulan)

4. Jairus Salim Tahun 1943 s/d 1970

5. Marthen Ombong Tahun 1971 s/d 1979

6. Salmon Tadi Lonsong Tahun 1980 s/d 1982

7. Albert Salim Tahun 1982 s/d 1983

8. Salmon Tadi Lonsong Tahun 1983 s/d 1985

9. Frans Pach Tahun 1985 s/d 1991

10. Mesias Tulaka Tahun 1991 s/d 1994

11. Rudolof Demianus Tolinting Tahun 1995 s/d 1999

12. Frans Pach Tahun 2000 s/d 2002

13. Obat yang Baik Tahun 2002 s/d 2007

14. Nuraghe-nya Tgl. 19 Maret 2008 s/d 22 April 2014

15. Wilson Tayai Tgl. 22 April 2014 s/d 22 April 2020

16. Melva S.Pd Tgl. 16 Juni 2020 s/d 3 Januari 2022

17. Alfrets Lasompoh, ST Tgl. 04 Januari 2022 s/d Sekarang

Desa Sirom merupakan salah satu dari 12 desa dalam wilayah administrasi Kecamatan Lamala. Secara geografis Desa Sirom terletak di sisi sebelah Utara dan berjarak 5 Km dari Ibu kota Kecamatan Lamala, ± 64 Km dari pusat Pemerintahan Kabupaten Banggai dan ± 670 Km dari Ibu Kota Propinsi Sulawesi Tengah. Desa Sirom memiliki luas wilayah 3,86 Km2 yang terbagi menjadi 2 (dua) dusun, yakni Dusun 1, Dusun II, 8 RT dan 4 RW dengan batas-batas wilayah administratif.

Desa Sirom memiliki batas wilayah administratif sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Poroan

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Boloak, Desa Tintingon, Desa Garuga

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kagitakan, Desa Nipa

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Pantai/Laut

Struktur Badan Pengurus


Statistik Kampung


Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur
Jumlah Jiwa
761
Jumlah Kepala Keluarga
281
Jumlah PUS
111
Persentase Partisipasi Keluarga dalam Poktan (Kelompok Kegiatan)

Keluarga yang Memiliki Balita
39
Keluarga yang Memiliki Remaja
88
Keluarga yang Memiliki Lansia
187
Jumlah Remaja
106
PUS dan Kepesertaan Ber-KB
Total
58
PUS dan ketidaksertaan Ber-KB
Total
53

Sarana dan Prasarana


Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA)
UPPKA

Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA)

Belum Diisi

Sekretariat Kampung KB
Sekretariat KKB

Sekretariat Kampung KB

Ada

Rumah Data Kependudukan Kampung KB
Rumah Dataku

Rumah Data Kependudukan Kampung KB

Ada

Bina Keluarga Balita (BKB)
BKB

Bina Keluarga Balita (BKB)

Ada

Bina Keluarga Lansia (BKL)
BKL

Bina Keluarga Lansia (BKL)

Ada

Bina Keluarga Remaja (BKR)
BKR

Bina Keluarga Remaja (BKR)

Ada

Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R)
PIK R

Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R)

Ada

DASHAT

Dapur Sehat Atasi Stunting

Ada

Dukungan Terhadap Kampung KB


Sumber Dana Ya,
APBN
APBD
Dana Desa
Donasi/ Hibah Masyarakat
Perusahaan (CSR)
Swadaya Masyarakat
Kepengurusan/pokja KKB Ada
SK pokja KKB Ada
PLKB/PKB sebagai pendamping dan pengarah kegiatan Tidak Ada
Regulasi dari pemerintah daerah Ada,
SK Kepala Desa/Lurah tentang Kampung KB
Pelatihan sosialisasi bagi Pokja KKB Ada
Jumlah anggota pokja yang sudah terlatih/tersosialisasi pengelolaan KKB 20 orang pokja terlatih
dari 20 orang total pokja
Rencana Kegiatan Masyarakat Ya
Penggunaan data dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan Ya,
PK dan Pemutahiran Data
Data Rutin BKKBN
Potensi Desa
Data Sektoral
Lainnya

Mekanisme Operasional


Rapat perencanaan kegiatan Ada, Frekuensi: Tahunan
Rapat koordinasi dengan dinas/instansi terkait pendukung kegiatan Ada, Frekuensi: Bulanan
Sosialisasi Kegiatan Ada, Frekuensi: Triwulan
Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Ada, Frekuensi: Bulanan
Penyusunan Laporan Ada, Frekuensi: Bulanan
Statistik Pengunjung Website:
Hari ini: 0
Minggu ini: 0
Bulan ini: 0
Total: 0