Melakukan Komunikasi, Informasi, edukasi dan koseling kepada ibu baduta dan ibu hamil
Deskripsi
KIE dan Konseling
merupakan pilar utama dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan
partisipasi masyarakat dalam program Keluarga Berencana. Meski keduanya saling
berkaitan, masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda dalam mencapai target
kemandirian ber-KB.
1.
Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)
KIE adalah proses penyampaian pesan mengenai kependudukan dan keluarga
berencana kepada masyarakat luas atau kelompok tertentu.
Tujuan: Mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar
mendukung program KB, menurunkan angka kelahiran, dan mencegah stunting melalui
perencanaan keluarga.
Metode: Dilakukan secara massal maupun kelompok melalui
berbagai media, seperti penyuluhan langsung di Posyandu, pemasangan
spanduk/poster, sosialisasi lewat media sosial, hingga pemanfaatan mobil unit
penerangan (MUPEN).
Fokus Materi: Sosialisasi jenis-jenis alat kontrasepsi,
edukasi usia ideal menikah (Pusat Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja),
serta pentingnya jarak kelahiran untuk kesehatan ibu dan anak.
2. Konseling
KB
Konseling adalah proses komunikasi interpersonal dua arah yang lebih mendalam
dan bersifat pribadi antara tenaga kesehatan atau kader terlatih (konselor)
dengan calon akseptor (klien).
Tujuan: Membantu klien mengambil keputusan yang mantap
dan sukarela dalam memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan kondisi
kesehatan dan kebutuhan reproduksinya.
Metode: Menggunakan alat bantu seperti ABPK
(Alat Bantu Pengambilan Keputusan) KB. Proses ini memastikan klien
memahami keuntungan, efek samping, dan cara kerja dari setiap alat kontrasepsi
(terutama Metode Kontrasepsi Jangka Panjang/MKJP).
Prinsip SATU
TUJU: Konseling biasanya
mengikuti langkah Sapa, Tanya, Uraikan, Bantu, Jelaskan, dan Kunjungan
Ulang.
3. Sinergi
KIE dan Konseling dalam Percepatan Penurunan Stunting
Di tahun 2026, strategi KIE dan Konseling difokuskan pada penguatan pengasuhan
1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Melalui KIE, masyarakat disadarkan akan
bahaya stunting, sementara melalui konseling, ibu pasca-persalinan didorong
untuk segera menggunakan KB Pasca Persalinan (KBPP) guna
mengatur jarak kehamilan yang ideal (minimal 3 tahun), yang secara langsung
berkontribusi pada penurunan risiko stunting pada anak.
Output
Kegiatan:
Meningkatnya angka
kesertaan ber-KB (mCPR).
Menurunnya angka unmet
need (kebutuhan KB yang tidak terpenuhi).
Meningkatnya pengetahuan
masyarakat mengenai kesehatan reproduksi secara komprehensif.
Terwujudnya keluarga yang
berkualitas, sehat, dan sejahtera.