PERINGATAN 1 MUHARRAM DESA WONOREJO
wonorejo
Dipublikasi pada
27 June 2025
Deskripsi
Upacara Satu Suro adalah rangkaian ritual sakral dan tradisi budaya masyarakat Jawa yang menyambut tahun baru dalam kalender Jawa, yaitu 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Asal-usul dan Makna
- Tradisi ini dimulai pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram Islam, sekitar abad ke-17, yang menyatukan kalender Hindu Saka dengan kalender Islam Hijriah.
- Malam Satu Suro menandai pergantian tahun dan dianggap sebagai waktu yang keramat untuk melakukan refleksi diri, memohon keselamatan, dan introspeksi atas dosa-dosa yang telah lalu.Peringatan malam 1 Suro di beberapa daerah di Jawa terkadang diintegrasikan dengan pertunjukan tayub, meskipun tradisi ini tidak selalu terkait langsung dengan malam 1 Suro. Tayub, sebagai tarian dan musik yang sering dilakukan secara tradisional, di beberapa tempat bisa menjadi bagian dari perayaan atau upacara di bulan Suro, khususnya di daerah yang masih kuat mempertahankan tradisi ini, seperti Desa Talok, yang menggelar tayub sebagai rutinitas wajib pada bulan Suro.Kaitan Tayub dan Malam 1 Suro
- Malam 1 Suro adalah awal tahun Jawa yang dianggap sakral dan merupakan momen untuk refleksi spiritual. Di beberapa daerah, tradisi lokal yang bersifat budaya, termasuk pertunjukan seni seperti tayub, diselenggarakan bertepatan dengan momen ini.
- Di Desa Talok, misalnya, tradisi tayub merupakan bagian dari ritual yang dilakukan secara rutin setiap bulan Suro. Ini menunjukkan bahwa tayub dapat menjadi bentuk ekspresi kebudayaan yang juga memiliki makna spiritual dalam konteks peringatan malam 1 Suro di wilayah tersebut.
- Di samping tradisi utama seperti kirab pusaka di keraton atau acara ritual lainnya, ada juga perayaan-perayaan lokal yang sifatnya lebih kecil dan melibatkan kesenian, di mana tayub bisa masuk dalam bagian dari acara tersebut.
Di Desa Wonorejo sendiri perayaan 1 suro diperingati desa selamatan 1000 tumoeng yang dipusatkan di jampung petarung. Selamatan dipundencikal bakal pendiri desa Wonorejo yang bernama kyai Abdurrahman ( mbah Wadang ). Pentas seni jaranan dan ditutup dengan kegiatan langen beksan ( tayub ).
Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin cinta pada budaya lokal di desa Wonorejo
Kegiatan ini terlaksanan dengan antusias peserta cukup baik.
Sesi Kegiatan Sosial Budaya