Minilokakarya (minilok) stunting tk Kecamatan Awayan
Deskripsi
Pelaksanaan Minilokakarya tk. Kecamatan Awayan
pelaksanaan kegiatannya dilakukan
dimulai pada bulan Agustus dikarenakan adanya
keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan. Idealnya
pelaksanaan Minilokakrya dilaksanakan 10kali dalam bulan yang berbeda.
Penggabungan kegiatan ini dilakukan sebagai Langkah untuk mengatasi
keterbatasan sarana dan prasarana tanpa mengurangi tujuan dan fungsi
pelaksanaan Minilokakarya itu sendiri. Selain itu dengan penggabungan 4
pelaksanaan kegiatan Minilokakarya menjadi 1 waktu kegiatan diharapkan dapat
menambah wawasan dari peserta dalam memecahkan permasalahan stunting di
Kecamatan Awayan. Narasumber Kegiatan Minilokakarya tk. Kecamatan Awayan antara lain:
·
Petugas Gizi Kecamatan Awayan
yaitu Bapak Zainal Akli
·
Bidan Koordinator Kecamatan
Awayan yaitu Ibu Elfa Jayanti
·
Promkes Puskesmas Kecamatan
Awayan yaitu Ibu Lia
·
Bidan Puskesmas Kecamatan
Awayan yaitu Ibu Windarsih
Kegiatan Minilokakarya tk. Kecamatan
Awayan dihadiri oleh Tokoh masyarakat,
Kader TPK, Kader IMP, Perwakilan Aparat
Desa, Bidan Desa, dan Keluarga Beresiko Stunting. Jumlah Peserta yang hadir
dalam kegiatan ini berjumlah 32 orang.
Setelah Narasumber menyampaikan materi terkait materi diantaranya Pencegahan Stunting dengan Keluarga Berencana, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk mencegah stunting, dan Peran Kader TPK dalam Pencegahan Stunting dari Hulu ke Hilir. Penyuluh KB Kecamatan Awayan sebagai moderator mengarahkan peserta untuk bertanya dan menyampaikan permasalahan stunting di setiap desa. TPK dari perwakilan beberapa desa juga menyampaikan kenda terkait pencatatan dan pelaporan yang dilakukan melalui Elsimil dan langsung mendapat tanggapan dari Satgas Stunting Kabupaten Balangan. Diskusi antara peserta dan Narasumber serta mitra yang berhadir di kegiatan Minilokakarya sangat antusia dan menarik dalam mencari Solusi terkait pencegahan stunting serta penanganan stunting yang ada di Kecamatan Awayan.
Sebagian besar kendala yang dialami
di setiap Desa adalah ketidakhadiran sasaran ke Posyandu atau BKB karena orang
tua balita tidak sempat mengantar atau karena alasan bepergian ke luar kota.
Selain itu, masyarakat terbiasa dengan pola datang, timbang, dan pulang.
Kendala yang sama setiap kemantren yaitu erornya aplikasi elsimil sehingga
menghambat proses input data dan rusaknya alat antropometri. Meskipun demikian,
setiap kemantren memiliki upaya dan inovasi yang terus ditingkatkan demi
tercapainya penurunan prevalensi stunting di Kecamatan Awayan.