Jejak Islam di Simeulue, Bedug dan Mimbar Usia Ratusan Tahun Ada di Lataling
Lataling
Dipublikasi pada
08 July 2025
Deskripsi
Jejak Islam di Simeulue, Bedug dan Mimbar Berusia Ratusan Tahun Ada di Lataling
Simeulue (Lataling) - Masyarakat di Desa Lataling, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh masih menyimpan beduk berusia 109 tahun peninggalan sejarah Islam masa lampau.
Beduk itu saat ini berada di Masjid Nurus Sa’dah desa setempat. Bedug yang berfungsi sebagai alat pengingat waktu shalat dan berbuka puasa pada jamannya itu dibuat sejak tahun 1914 dari kayu bulat dengan panjang empat meter dengan diameter lingkaran mencapai 65 cm.
"Beduk ini sudah tidak digunakan lagi. Ini merupakan peninggalan nenek moyang kami yang saat ini masih terus dijaga," kata Hamzali, masyarakat Desa Lataling yang di Simeulue, Rabu, 09/07/2025.
Menurut Hamzali, sebelumnya Beduk tersebut sempat rusak parah karena sering dibawa ke berbagai tempat di daerah kepulauan itu untuk pameran.
"Dulu Beduk ini sempat terbelah dua, namun saat ini telah direhab oleh desa," kata Hamzali.
Selain Beduk, kata Hamzali, di desa itu juga terdapat Mimbar khutbah yang usianya juga sudah lebih dari seratus tahun.
Mimbar tua ini juga sempat rusak berat, dan diganti dengan mimbar baru. Namun, saat ini kembali digunakan setelah masyarakat dibantu pemerintah desa memperbaikinya.
Menurut Hamzali, mimbar berusia lebih dari seabad itu sederhana berbentuk empat persegi dan memiliki kubah kecil bermotif susun sirih.
Mimbar tersebut terbuat dari kayu pilihan yang ada di desa itu. Meski beberapa bagian telah mendapat perbaikan, namun tiang utama yang menjadi penyangga mimbar masih yang aslinya.
Mimbar ini telah banyak mengalami perubahan dari aslinya, beberapa bagian telah diganti. Namun untuk tiang utama masih asli.
"Kami akan terus jaga mimbar tersebut. Sebab, mimbar tua itu memiliki nilai sejarah panjang dalam syiar Islam di Pulau Simeulue," pungkas Hamzali.
Saat ini mimbar peninggalan sejarah Islam itu masih bisa di lihat dan bagi yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan tausiah di masjid itu bisa merasakan langsung berkhutbah di mimbar yang memiliki nilai sejarah Islam masa lampau itu.
"Masyarakat Lataling sangat senang apabila ada ulama atau penceramah yang datang ke Masjid Lataling untuk menyampaikan tausiah di mimbar berusia ratusan tahun ini," kata Hamzali.
Penulis : Admin
Rubrik : Sosial Budaya
Sesi Kegiatan Keagamaan