ASI Menjadi Bahasa Pertama Kehidupan

KKB.SANGKALA
Dipublikasi pada 11 February 2025

Deskripsi

Pagi itu, Rumah Gizi Desa Sangkala tidak sekadar menjadi bangunan dengan dinding sunyi. Ia menjelma ruang perjumpaan—tempat para ibu duduk berhadap-hadapan dengan pengetahuan, sembari memangku bayi yang masih belajar mengenali dunia lewat dekapan dan sentuhan.

Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang ASI Eksklusif bagi ibu yang memiliki bayi usia 0–6 bulan berlangsung dalam suasana hangat dan bersahabat. Tidak ada jarak antara penyuluh dan peserta. Yang ada hanya percakapan yang tumbuh pelan, seperti air susu yang mengalir alami.

Di antara para ibu, seorang peserta mengangkat tangan. Suaranya tenang, namun sarat rasa ingin tahu. Ia menanyakan satu hal yang kerap menjadi persimpangan bagi banyak ibu muda: apakah bayi boleh diberi makanan tambahan saat usia lima bulan?

Pertanyaan itu tidak dibiarkan menggantung. Penyuluh Keluarga Berencana (KB) menjawab dengan bahasa yang sederhana dan jelas. Ia menegaskan bahwa pada usia 0 hingga 6 bulan, bayi hanya membutuhkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apa pun. ASI, menurutnya, telah mengandung seluruh zat gizi yang diperlukan bayi hingga memasuki usia enam bulan.

Penjelasan itu mengalir seperti penegasan yang menenangkan. Bukan sekadar aturan, melainkan pemahaman tentang ritme tumbuh kembang bayi yang bekerja sesuai waktunya. Tubuh bayi, sebagaimana dijelaskan, belum siap menerima makanan lain sebelum genap enam bulan.

Diskusi kecil itu membuka ruang berbagi. Para ibu saling menyimak, sesekali mengangguk, menyerap informasi yang mungkin belum pernah mereka dengar sebelumnya. Wajah-wajah yang semula ragu perlahan berubah menjadi lebih yakin.

Sejumlah peserta mengaku merasa senang dengan adanya sesi berbagi seperti ini. Bagi mereka, KIE ASI Eksklusif bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberi kepercayaan diri dalam menjalani peran sebagai ibu. Informasi yang jelas membuat langkah terasa lebih ringan, dan keputusan menjadi lebih mantap.

Di Rumah Gizi Desa Sangkala, pagi itu, ASI tidak hanya dibicarakan sebagai cairan gizi. Ia hadir sebagai bahasa pertama kehidupan—yang dipelajari bersama, dibagikan dengan sabar, dan dijaga dengan pengetahuan.

Sesi Kegiatan Keagamaan

Instansi Pembina Kegiatan

Sasaran Kegiatan

Statistik Pengunjung Website:
Hari ini: 21
Minggu ini: 21
Bulan ini: 22
Total: 87