Sore yang Hangat di Madukoro
Candimulyo, 25 April 2026 – Semburat jingga sore di Dusun Madukoro mengiringi langkah para kader PKK menuju Balai Pertemuan. Bukan sekadar pertemuan rutin, sore kemarin menjadi momentum istimewa. Sambil mengenakan kebaya dan batik dengan anggun, para ibu berkumpul untuk menyatukan visi dalam semangat Hari Kartini. Pertemuan yang sarat diskusi mengenai kesehatan anak, gizi keluarga, dan pemberdayaan ekonomi desa ini menunjukkan bahwa bagi mereka, Kartini adalah aksi nyata.
Suara Tusiyem: Kartini di Balik Dapur dan Posyandu
Di sela diskusi, Ibu Tusiyem, salah satu kader senior yang telah mengabdi belasan tahun di Madukoro, membagikan pemikirannya. Dengan senyum yang teduh namun penuh ketegasan, ia bertutur:
"Dulu Ibu Kartini berjuang lewat pena dan pikiran agar perempuan bisa sekolah. Sekarang, kita yang melanjutkan perjuangannya lewat apa yang kita bisa. Bagi saya, menjadi Kartini itu sederhana: memastikan anak-anak di dusun ini tidak stunting, memastikan keluarga makan sehat, dan ibu-ibu di sini punya usaha sendiri. Kalau ekonomi keluarga kuat, desa pun akan sejahtera. Itu emansipasi kami, emansipasi yang terasa manfaatnya di rumah sendiri."
Kader PKK: Ujung Tombak Resiliensi Desa
Pemikiran Ibu Tusiyem mewakili ribuan kader PKK di seluruh pelosok desa. Pertemuan kemarin menegaskan bahwa peran perempuan di Candimulyo bukan lagi sebagai pelengkap, melainkan penggerak utama pembangunan. Upacara sederhana yang diselipkan dalam agenda pertemuan bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat bahwa di pundak para ibu inilah, ketahanan sosial Dusun Madukoro dipertaruhkan.
Semangat ini adalah energi baru bagi Candimulyo. Ketika ibu-ibu seperti Ibu Tusiyem bergerak dengan cinta dan logika, maka desa tidak hanya sekadar berubah secara fisik, tetapi juga secara kualitas manusianya.