Nyadran: Merawat Tradisi, Memupuk Kebersamaan di Padukuhan Sempu
Deskripsi
Nyadran, tradisi Jawa menyambut Ramadan, berakar dari "sraddha" (keyakinan) Sanskerta. Ini adalah akulturasi budaya Jawa dan Islam, mengganti puji-pujian Sradha Hindu-Buddha dengan doa Islam. Nyadran adalah syukur pada Tuhan dan melestarikan gotong royong.
Tahapannya: ziarah kubur untuk mendoakan leluhur, "besik" (membersihkan makam), lalu berdoa dengan bunga telasih. Puncak: kenduri atau makan bersama di makam. Masyarakat membawa makanan tradisional seperti ayam ingkung dan urap sayur. Ini jadi ajang silaturahmi.
Nyadran umumnya di bulan Ruwah (kalender Jawa) atau Syaban (Hijriyah), menjelang Ramadan. Ini lebih dari tahlilan atau ziarah; ini ajang silaturahmi, kepedulian, gotong royong, dan kerukunan. Sebuah warisan leluhur yang terus dijaga, mengingatkan pentingnya mengenang pendahulu dan memperkuat ikatan kekeluargaan.